Running Page

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Pengantar Pengendalian Mutu Produksi

Untuk memahami konsep mutu, hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah arti dari mutu itu sendiri. Istilah mutu pertama kali dicetuskan pada tahun 1956 oleh Winston Dictionary.  Winston Dictionary menjelaskan  konsep  mutu  sebagai  tingkat kesempumaan dari sesuatu yang sedang diamati. Pada tahun 1980, Donabedian menjelaskan  mutu sebagai sifat yang dimiliki oleh suatu program.  Crosby pada tahun 1984, menambahkan bahwa mutu adalah suatu bentuk kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan.

Dua tahun berikutnya, yaitu 1986, International Standard Operational (ISO) 8402 menyatakan bahwa mutu merupakan totalitas dari wujud dan ciri suatu barang ataupunjasa yang di dalamnya terkandung rasa aman dan pemenuhan kebutuhan pengguna. Sejarah konsep  mutu  sendiri dimulai pada saat terjadinya revolusi industry disebagian besar negara Eropa atau yang lebih dikenal sebagai Zaman Inspeksi (Inspection Era).  Dikatakan zaman inspeksi dikarenakan pada era tersebut hanya departemen inspeksi saja yang bertanggung jawab selama pendeteksian dan penyisihan produk yang tidak memenuhi syarat mutu. Pada era tersebut, mutu hanya terfokus pada atribut yang melekat pada produk, masalah kerusakan produk, kecacatan maupun penyimpangan, sedangkan proses dan sistem yang digunakan  selama produksi  tidak  menjadi  fokus utama. Pada masa ini ada beberapa orang ahli di bidang statistik yang antara lain Walter A. Sewhart (1924) yang menemukan konsep statistik untuk pengendalian variable-variabel produk seperti panjang, lebar, berat, tinggi, dan sebagainya. Sedang H.F. Dodge dan H.G. Romig (akhir 1920) merupakan pelopor dalam pengambilan sampel untuk menguji penerimaan produk (acceptance sampling).

Sejak tahun 1930-an, Terjadi pergeseran  pandangan  terhadap mutu.  Mutu produk diartikan sebagai serangkaian karakteristik yang melekat pada produk yang dapat diukur secara kuantitatif menggunakan pengukuran statistik. Era tersebut dikenal sebagai Zaman Pengendalian Mutu Secara Statistik (Statistical Quality Control Era). Di era ini, pertanggungjawaban dalam hal mutu produk tidak hanya dibebankan pada Departemen Inspeksi tetapi juga melibatkan Departemen Produksi. Kedua departemen tersebut sudah dilengkapi dengan alat-alat dan metode statistik dalam mendeteksi penyimpangan terjadi dalam atribut  produk yang dihasilkan dari proses produksi.  Pada tahap ini dikenal seorang tokoh yaitu Feigenbaum (1983) yang merupakan pelopor Total Quality Control. Sedang pada tahun 1970 Feigenbaum memperkenalkan  konsep  Total Quality Control Organizationwide. Namun, pada tahun 1983 Feigenbaum memperkenalkan konsep Total Quality System

Pengendalian mutu merupakan aktivitas untuk memperbaiki, mempertahankan dan mencapai kualitas suatu produk atau jasa. Pengendalian mutu dibutuhkan untuk menghindari produk yang tidak memenuhi syarat yang berakibat pada banyaknya tenaga, waktu, serta bahan yang terbuang. Terdapat empat tahapan dalam manajemen mutu, yaitu:

Perencanaan mutu (quality planning) merupakan suatu tahapan untuk melakukan identifikasi kebutuhan dan sasaran mutu yang akan dicapai. Berdasarkan perencanaan kualitas ini maka akan dirumuskan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan untuk memproduksi suatu produk. Perencanaan mutu meliputi:

Ø  Identifikasi pelanggan, baik pelanggan internal maupun ekstemal.

Ø  Menentukan kebutuhan pelanggan.

Ø  Mengembangkan   karakteristik   produk   yang   merupakan   tanggapan   terhadap kebutuhan pelanggan.

Ø  Menyusun sasaran kualitas yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemasok sehingga dapat meminimalkan biaya.

Ø  Mengembangkan proses yang dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan karakteristik tertentu.

Ø  Memperbaiki atau meningkatkan kemampuan proses.

Pengendalian mutu (quality control) merupakan kegiatan yang ditujukan untuk menghindari  ketidaksesuaian  produk dengan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan  kualitas. Pada intinya, pada pengendalian kualitas  ini, semua kegiatan dilakukan dengan tujuan untuk menghindari atau mengeliminir produk cacat. Pengendalian mutu meliputi:

Ø Memilih subyek atau dasar pengendalian.

Ø  Memilih unit-unit pengukuran

Ø Menyusun pengukuran.

Ø Menyusun standar kinerja.

Ø Mengukur kinerja yang sesungguhnya.

Ø Menginterpretasikan perbedaan antara standar dengan data nyata.

Ø Mengambil tindakan atas perbedaan tersebut.

Untuk Materi Selengkapnya dapat dilihat di sini

Posting Komentar

0 Komentar